Monday, September 19, 2022

tanboykun mukbang

Painting and Ethics


Lukisan bisa berharga dalam berbagai cara. Mereka dapat memiliki nilai ekonomi, nilai untuk menyebutkan beberapa saja. Mereka juga bisa berharga hanya sebagai karya seni. Dapatkah sebuah lukisan menjadi lebih buruk secara artistik karena cacat secara etis, atau secara artistik lebih baik karena manfaat etisnya? Artinya, dapatkah karakter etis sebuah lukisan mempengaruhi nilainya sebagai seni?. Penilaian etis, bagaimanapun, adalah tentang orang dan tindakan. Bergantung pada teori etika yang dianut seseorang, penilaian etis mengevaluasi motif, alasan, niat, tindakan, konsekuensi, sifat karakter, institusi, prinsip distribusi, hukum, sistem sosial, atau bahkan sentimen dan perasaan. Tetapi lukisan adalah benda mati yang tidak bertindak atau memiliki kondisi mental, sehingga seseorang dapat secara wajar meragukan pencalonan mereka untuk penilaian etis. Bagaimana sesuatu bisa menjadi baik atau buruk dalam pengertian etis?

 Lukisan "Adolf Hitler" 

Lukisan-lukisan ini dianggap sangat tercela secara moral sehingga disembunyikan di lokasi rahasia yang dilindungi oleh Angkatan Darat AS. Apakah kasus semacam ini menjelaskan pencalonan lukisan untuk penilaian etis? Tampaknya tidak, karena dalam kasus seperti itu penilaian etis lebih memperhatikan pelukis daripada lukisan itu sendiri.

 Lukisan "Titian, Pemerkosaan Europa"

Urusan, sikap, dan sejenisnya, dan buruk sejauh itu mempromosikan yang buruk secara etis. Pertimbangkan, misalnya, Pemerkosaan Europa dari Titian, yang menunjukkan dewa Jupiter menyamar sebagai banteng menyeret Europa gadis tak berdaya untuk melakukan hubungan dan menghamilinya. Sekarang bayangkan lukisan ini memiliki efek merusak moral dengan mendorong penontonnya untuk memiliki perasaan erotis terhadap pemerkosaan, bahkan menghasut beberapa untuk melakukan tindakan kekerasan seksual nonconsensual. Bukankah kita harus mengatakan bahwa lukisan itu tidak etis?

 Lukisan "Guernica"

karya Picasso menggambarkan tindakan teror dan kekejaman, yaitu pengeboman Jerman tahun 1937 atas kota nonmiliter di negara Basque, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa lukisan itu sendiri tidak etis; orang tidak boleh mengacaukan karakter etis dari hal yang direpresentasikan dalam karya dengan karakter dari representasi itu sendiri. Kami akan kembali ke titik ini segera.


Konsekuensialis adalah satu paham dari etika normatif yang menekankan bahwa kebenaran suatu tindakan haruslah dinilai dari akibat perbuatan tersebut. Nah disini kita mencoba bayangkan jika kita menggunakan konsekuensi? apa kita bakal menganganggap ketiga lukisan tersebut tidak etis? mungkin tidak jika kita hanya melihat dari satu sisi misal nya lukisan adolf hitler yg secara kasar dia orang yg kejam, apa itu memengaruhi lukisan nya? ya saya jujur belum pernah melihat lukisan nya tapi disini saya mencoba untuk tidak melihat siapa yg melukis tapi apa makna yg ada di dalam lukisan tersebut. Dan konsekuensialis harus menghadapi kenyataan bahwa banyak lukisan memiliki lapisan makna yang halus, tidak pasti, dan terkadang kontradiktif. Kompleksitas hermeneutik ini berarti bahwa banyak lukisan mudah disalahartikan. Jika.. Jika sebuah lukisan secara konsisten menghasut tindakan atau sikap yang tidak etis, tetapi melakukannya karena kegagalan penonton untuk memahami karya tersebut dengan benar, tidak masuk akal untuk menilai lukisan itu tidak etis; yaitu, konsekuensialis akan menganggap lukisan terlalu bertanggung jawab. 


Jika lukisan hanya di lihat dari akibat mungkin banyak lukisan yg tidak etis, atau sebaliknya. Dan kadang setiap mata yg melihat pun berbeda pandangan atas sebuah lukisan. Jika menurut sebagian orang salah satu dari ke tiga lukisan itu memiliki dampak yg buruk, bagaimama kehidupan realita yang sekarang sedang terjadi? baik baik saja? padahal lukisan sang pemimpin nazi yang terkenal kejam saja di rahasia kan oleh Angkatan Darat A.S


Beda mata beda pandangan, satu pandangan seluruh gairah. Kita tidak bisa menghakimi begitu saja hanya karna dia seorang yg kejam atau makna lukisan nya yg berefek untuk orang yg melihat. Balik lagi ke diri kita masing masing hanya kita yg tauu


No comments:

Post a Comment

Analitik No.13

 Filsafat Analitik adalah  aliran filsafat yang muncul dari kelompok filsuf yang menyebut dirinya lingkaran Wina . Filsafat analitik lingkar...